Natuna (Cindai.id) _ Ketua Umum Komunitas Budaya Melayu (KODAM) Provinsi Kepulauan Riau sekaligus Ketua Forum Tanjak Warisan (FTW) Kepri, Deny Jebat, mengingatkan Bupati Natuna Cen Sui Lan agar menjaga tutur kata dan adab ketika berhadapan dengan insan pers.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul ucapan, “Kamu dari mana? Koran Perbatasan? Tidak masuk!!”, yang disebut ditujukan kepada wartawan Koran Perbatasan saat meliput acara makan siang di Rumah Makan Ajo Basamo, Jumat (23/10/2026).
Deny menyampaikan pandangannya kepada redaksi Koran Perbatasan melalui WhatsApp, Rabu (28/10/2026). Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut pilihan kata, tetapi juga penghormatan terhadap profesi wartawan dan marwah seorang pemimpin Melayu.
Ia menilai, wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik patut dihormati, terlepas dari media tempatnya bekerja maupun perbedaan pandangan dengan pejabat publik.
“Seorang pemimpin harus mampu menjaga perkataan dan sikap. Jangan sampai ucapan yang disampaikan di hadapan orang banyak justru membuat seseorang merasa dipermalukan,” demikian pandangan Deny.
Tanjak Bukan Sekadar Pakaian Adat
Deny kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan filosofi tanjak dalam budaya Melayu. Menurutnya, tanjak bukan sekadar penutup kepala atau pelengkap pakaian adat, melainkan simbol amanah, kehormatan, dan tanggung jawab moral.
Ia menjelaskan, makna simbolis tanjak mengandung pesan tentang kedudukan, persatuan, kesetiaan, serta tanggung jawab. Karena itu, nilai-nilai yang melekat pada tanjak semestinya tercermin dalam perilaku orang yang mengenakannya.
Bagian tanjak yang menjulang ke atas, menurut Deny, menggambarkan kedudukan dan kewibawaan. Namun, kedudukan tersebut harus disertai kerendahan hati, bukan menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.
Ia juga menyinggung ungkapan “tanjak tak berempunya” sebagai pengingat bahwa simbol adat semestinya berjalan seiring dengan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai budaya Melayu.
“Marwah seorang pemimpin bukan hanya terlihat dari jabatan atau pakaian adat yang dikenakan, tetapi juga dari cara berbicara, bersikap, dan menghormati orang lain,” menjadi pesan yang ditekankan Deny.
Kenang Perjalanan Amran Membangun Pers Natuna
Dalam pernyataannya, Deny Jebat juga menyinggung perjalanan Amran, Pemimpin Redaksi Koran Perbatasan, yang menurutnya telah lama berkontribusi dalam perkembangan pers di Kabupaten Natuna.
Sebelum mengembangkan media berbasis elektronik, Amran disebut pernah mengelola Surat Kabar Umum (SKU) Tantangan, media cetak yang pada masanya menjadi salah satu bagian dari perkembangan pers di wilayah perbatasan.
Deny juga menyoroti kontribusi Amran dalam membina sumber daya manusia jurnalistik. Sejumlah orang yang pernah bekerja bersamanya kini disebut telah mendirikan dan memimpin perusahaan pers sendiri maupun menempati posisi penting di berbagai media.
Menurut Deny, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa dunia pers bukan hanya tentang menerbitkan berita, tetapi juga membangun pengalaman, keterampilan, dan regenerasi wartawan.
Karena itu, ia berharap penghormatan terhadap wartawan tidak didasarkan pada besar atau kecilnya media tempat mereka bekerja. Setiap wartawan yang menjalankan tugas jurnalistik tetap berhak mendapatkan perlakuan yang pantas.
Ingatkan Pemimpin Menjaga Perkataan
Deny turut menyampaikan sejumlah petuah Melayu untuk mengingatkan pentingnya menjaga perkataan dan perasaan orang lain.
“Lidah laksana pisau belati, salah cakap melukai hati. Tanjak di kepala tegak berdiri, tanda memimpin dengan hati,” demikian ungkapan yang disampaikannya.
Ia juga mengutip petuah, “Wahai anak peganglah adat, lidah dijaga martabat diingat. Jangan berkata menghina umat, supaya kaum tidak tersayat.”
Menurutnya, perkataan seorang pemimpin memiliki konsekuensi karena dapat membangun kepercayaan sekaligus memengaruhi hubungan dengan masyarakat.
Deny menegaskan, menjaga adab bukan berarti menghindari kritik atau menutup ruang perbedaan pendapat. Sebaliknya, komunikasi yang santun diperlukan agar persoalan dapat diselesaikan tanpa merendahkan martabat pihak lain.
Ia juga mengingatkan bahwa pemimpin yang baik harus bersedia memberikan penjelasan dan memperbaiki keadaan apabila perkataannya menimbulkan persoalan.
Deny meminta Cen Sui Lan memberikan klarifikasi mengenai maksud dan konteks ucapan yang dipersoalkan agar persoalan tersebut tidak terus menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat.
Ia turut mengaitkan pesan menjaga perkataan dengan ajaran Islam, khususnya Surah Al-Ahzab ayat 70 yang memerintahkan orang-orang beriman untuk bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar atau *qaulan sadidan*.
Menurut Deny, nilai kesantunan, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap sesama harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari, terlebih bagi seorang pemimpin yang perkataannya menjadi perhatian publik.
Redaksi Masih Menunggu Klarifikasi
Sementara itu, redaksi Koran Perbatasan sebelumnya telah meminta klarifikasi kepada Bupati Natuna Cen Sui Lan dan pihak terkait mengenai ucapan yang dipersoalkan tersebut.
Redaksi juga telah mengirimkan surat klarifikasi lanjutan kepada Cen Sui Lan dan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Natuna. Surat tersebut ditembuskan kepada sejumlah organisasi pers dan Dewan Pers Republik Indonesia.
Dalam surat itu, redaksi meminta jawaban tertulis dalam waktu lima hari kerja sejak surat diterima.
Hingga berita ini disusun, redaksi menyatakan masih menunggu tanggapan substantif dari pihak-pihak yang dimintai klarifikasi. Ruang pemberitaan tetap terbuka bagi Cen Sui Lan maupun pihak terkait untuk menyampaikan penjelasan mengenai konteks dan maksud ucapan tersebut.
Deny Jebat berharap persoalan ini dapat diselesaikan melalui klarifikasi dan komunikasi yang baik. Baginya, menjaga marwah tanjak harus sejalan dengan menjaga adab, menghormati sesama, serta menunjukkan tanggung jawab dalam perkataan dan tindakan.(Red)




